Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 453,4 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 30,6 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan posisi ULN Indonesia tetap terjaga. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, sementara kontraksi ULN swasta semakin rendah.
ULN pemerintah tercatat sebesar 216,3 miliar dolar AS atau tumbuh 2,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut antara lain dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Sementara itu, ULN swasta tercatat sebesar 194,6 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 0,6 persen secara tahunan. ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.
BI menyebut struktur ULN Indonesia tetap sehat karena didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 82,1 persen dari total ULN. Pemerintah dan BI juga terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN guna menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pembiayaan pembangunan secara berkelanjutan.






