Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Pada Dasarian I September atau periode 1-10 September 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota ditetapkan berstatus Awas kekeringan.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan wilayah berstatus Awas tersebar di Cilacap, Brebes, Tegal, Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo, Magelang, Kota Magelang, Purworejo, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Jepara, Kudus, dan Demak.
Status Awas merupakan kondisi paling kritis ketika hujan tidak turun selama sedikitnya 61 hari berturut-turut. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan sumber air mengering dan meningkatkan risiko kekeringan ekstrem yang dapat mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.
Selain 25 daerah berstatus Awas, BMKG mencatat sejumlah wilayah lainnya berstatus Siaga dan Waspada. Status Siaga mencakup Kota Tegal, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Surakarta, Pemalang, Batang, Kendal, Kabupaten Semarang, Temanggung, dan Boyolali. Sementara Kota Pekalongan berada dalam status Waspada.
BMKG menjelaskan status Siaga terjadi ketika hujan tidak turun lebih dari 31 hari, sedangkan Waspada ditetapkan setelah tidak ada hujan selama minimal 21 hari. Seluruh status tersebut disertai prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah dan instansi terkait diminta mengantisipasi potensi krisis air bersih, salah satunya melalui distribusi air menggunakan truk tangki. Masyarakat juga diimbau menghemat penggunaan air dan memprioritaskannya untuk kebutuhan pokok seperti minum dan memasak.






