Ini Penjelasan Analis Kebijakan Ekonomi, Mengapa Danantara Pilih SBN?

Jakarta: Danantara berperan sebagai mesin investasi nasional yang menggerakkan ekonomi tanpa membebani APBN. Lembaga ini berhak menerima dana dividen BUMN setiap tahun yang mencapai ratusan triliun rupiah. Dana tersebut diamanatkan untuk memperkuat sektor produktif dan industri masa depan. Sebagian dana juga ditempatkan dalam Surat Berharga Negara (SBN).

Analis Kebijakan Ekonomi APINDO, Ajib Hamdani, menyatakan penempatan dana di SBN merupakan praktik umum Sovereign Wealth Fund (SWF). Strategi ini biasa diterapkan pada masa awal pembentukan dana.

“Proyek strategis seperti energi baru, infrastruktur, atau industri teknologi tidak bisa langsung dibiayai. Perlu studi kelayakan, koordinasi, dan waktu. Sambil menunggu, dana harus tetap menghasilkan, bukan diam di rekening,” jelas Ajib Hamdani, Senin, 20 Oktober 2025.

Instrumen SBN dipilih karena likuid dan berdenjominasi rupiah. Langkah ini menjaga nilai modal negara tanpa mengambil risiko belum terukur. Alokasi ke pasar publik tidak berhenti pada tahap awal saja. Porsi investasi di instrumen publik akan tetap dipertahankan secara permanen.

“Public market tetap penting, tapi porsinya akan makin proporsional ketika pipeline proyek strategis mulai jalan,” katanya.

Praktik Danantara sejalan dengan lembaga sejenis di dunia. Temasek Singapura, Kuwait Investment Authority, dan Abu Dhabi Investment Authority juga memulai dengan investasi publik.

Tidak semua SWF memiliki fokus yang sama. Ada yang berorientasi pada pelestarian modal, ada pula yang menekankan pembiayaan pertumbuhan nasional. Pembelian SBN bukan merupakan penyimpangan, melainkan bagian tahapan normal SWF. Masyarakat sering keliru mengira dana besar bisa langsung ditanamkan ke proyek.

“Membangun PLTA saja bisa butuh enam tahun konstruksi dan sepuluh tahun untuk impas. Kalau seluruh dana langsung dikucurkan, itu justru berisiko tinggi,” ujarnya.

Penempatan dana di SBN menjaga likuiditas dan perputaran uang negara di sistem keuangan nasional. Komposisi public investment dan private investment akan semakin seimbang sesuai Strategic Asset Allocation.

Isu sekuritisasi dan penggunaan aset sebagai jaminan membutuhkan pembahasan tersendiri. Aspek teknis ini melibatkan pertimbangan prudensial yang matang.
Masukan dan saran publik terhadap Danantara menjadi momentum meningkatkan literasi tentang peran SWF. Sovereign wealth fund bukan lembaga yang mencari untung instan.

“Mandat Danantara tetap: membiayai industrialisasi dan memperkuat kemandirian ekonomi. Tapi untuk sampai ke sana, perlu waktu dan proses yang jelas,” pungkas Ajib. 

  • Related Posts

    Menko PMK Minta Google Berperan Aktif Wujudkan Keamanan Berinternet di Indonesia

    Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta Google sebagai salah satu penyelenggara sistem dan produk internet terbesar untuk ikut berperan aktif mewujudkan keamanan dan kenyamanan berinternet di…

    PIHPS Catat Harga Bawang Merah Rp43.800/Kg, Cabai Rawit Merah Rp75.300

    Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga bawang merah di tingkat pedagang eceran nasional mencapai Rp43.800 per kilogram (kg), sementara cabai rawit merah berada…