Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan Rp336 miliar untuk rehabilitasi sawah terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program ini bertujuan memulihkan sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang agar segera kembali produktif dan menjaga ketahanan pangan daerah.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Kementan, Hermanto, menjelaskan rehabilitasi dilakukan melalui tiga tahap: penyusunan rancangan teknis, konstruksi, dan pengolahan lahan. Sawah dengan kerusakan ringan ditangani melalui optimasi lahan, sedangkan lahan dengan kerusakan sedang hingga berat mendapat rehabilitasi khusus, termasuk pembersihan tanah, perapihan, dan perbaikan irigasi.
Kementan menargetkan rehabilitasi 32 ribu hektar lahan untuk optimasi dan 9,9 ribu hektar untuk rehabilitasi terdampak bencana, melibatkan konstruksi saluran irigasi, pematang, drainase, hingga perbaikan infrastruktur pertanian pendukung.
Program ini dijalankan kolaboratif dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan petani lokal, dengan penguatan tata kelola, pendampingan teknis, serta monitoring berkala. Hermanto menekankan, meski curah hujan hingga Maret 2026 masih tinggi, tim teknis akan menyesuaikan strategi penanganan agar pelaksanaan rehabilitasi tetap optimal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya percepatan rehabilitasi sawah agar fungsi lahan kembali optimal, memperluas areal tanam, dan meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan produktivitas sawah terdampak banjir sekaligus memastikan program berjalan tepat waktu, tepat mutu, dan tepat sasaran.
Dikutip dari antaranews.com








