Bulan Ramadan menghadirkan tantangan tersendiri dalam mengatur pola tidur. Kebiasaan bangun sahur di sepertiga malam membuat waktu istirahat terpotong. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa menyebabkan tubuh lemas, sulit fokus, hingga brain fog sepanjang hari.
Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah tidur singkat atau power nap (qailulah) selama 15–20 menit pada waktu istirahat siang, sekitar pukul 12.00–13.00. Durasi singkat ini cukup membantu memulihkan energi tanpa menimbulkan rasa pusing atau linglung setelah bangun. Hindari tidur lebih dari 30 menit agar tidak memasuki fase tidur dalam.
Selain itu, sebaiknya tidak langsung tidur pulas setelah sahur. Kebiasaan ini dapat memicu gangguan lambung seperti asam lambung naik serta membuat tubuh terasa lebih lemas saat bangun pagi. Beri jeda satu hingga dua jam sebelum kembali tidur. Jika memungkinkan, manfaatkan waktu setelah sahur untuk ibadah atau persiapan aktivitas harian.
Mengatur jadwal tidur juga penting. Usahakan tidur lebih awal setelah tarawih, sekitar pukul 21.30 atau 22.00, sehingga tetap memperoleh lima hingga enam jam tidur malam sebelum bangun sahur. Tambahan tidur singkat setelah Subuh dan power nap di siang hari dapat membantu memenuhi kebutuhan istirahat harian sekitar enam hingga tujuh jam bagi orang dewasa.
Asupan makanan dan minuman turut memengaruhi kualitas tidur. Batasi konsumsi kafein saat berbuka maupun sahur karena dapat membuat tidur menjadi dangkal. Hindari pula makan berlebihan, terutama karbohidrat sederhana, agar tubuh tidak mengalami penurunan energi drastis.
Terakhir, ciptakan lingkungan tidur yang nyaman dengan mematikan lampu, menjauhkan ponsel setidaknya 30 menit sebelum tidur, serta menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Dengan manajemen tidur yang tepat, puasa dapat dijalani dengan tubuh tetap segar dan pikiran lebih fokus sepanjang hari.







