Jakarta – Pemerintah akan memanfaatkan pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) untuk memperluas akses listrik ke ribuan lokasi terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik. Program tersebut menyasar 10.068 desa dan lokasi di seluruh Indonesia selama periode 2025–2029.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan dari total sasaran tersebut, sebanyak 5.466 lokasi dapat dilayani menggunakan jaringan listrik yang sudah tersedia. Sementara itu, 4.602 lokasi lainnya berada di luar jangkauan jaringan existing sehingga membutuhkan pembangkit listrik skala kecil yang beroperasi secara mandiri atau off-grid.
Untuk melayani 4.602 lokasi tersebut, pemerintah memperkirakan membutuhkan kapasitas pembangkit baru sekitar 508 megawatt (MW). Sumber energinya akan disesuaikan dengan potensi EBT yang tersedia di masing-masing wilayah.
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp61,6 triliun yang seluruhnya direncanakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Program ini diperkirakan menjangkau sekitar 770 ribu rumah tangga yang tersebar di 36 provinsi.
Selain memperluas akses kelistrikan, penyediaan listrik di wilayah terpencil diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumber energi lain seperti minyak tanah dan kayu bakar. Akses listrik juga diharapkan mendukung peningkatan produktivitas masyarakat di daerah yang selama ini belum sepenuhnya menikmati layanan kelistrikan.








