JAKARTA – Harga perak mencatat salah satu performa terbaiknya dalam 12 bulan terakhir, melonjak 137% dari Februari 2025 ke Februari 2026. iShares Silver Trust (SLV) mencatat kenaikan dari USD 29,46 menjadi USD 69,72, menjadikan perak sebagai aset top performer.
Meski demikian, reli perak tidak mulus. Januari 2026, harga sempat anjlok 17,5% akibat spekulasi pergantian Ketua Federal Reserve, yang memperkuat dolar AS. Volatilitas tersebut membuat sebagian investor ritel mengalami kerugian signifikan, meski sebagian lain berhasil memanfaatkan opsi jual (put option).
Lonjakan harga perak juga berdampak besar pada saham tambang, termasuk First Majestic Silver (+304%), Hecla Mining (+256%), Coeur Mining (+211%), dan Pan American Silver (+135%). Namun, valuasi yang melonjak tajam memicu kekhawatiran sebagian saham sudah overvalued.
Dari sisi fundamental, permintaan industri tetap menopang harga perak, terutama untuk panel surya, elektronik, dan infrastruktur AI. Dukungan tambahan datang dari pembelian emas oleh bank sentral, memengaruhi rasio emas-perak.
Analis menekankan, meski reli luar biasa, investor perlu memperhatikan tiga faktor utama: kekuatan permintaan industri di tengah perlambatan global, pengelolaan pasokan oleh perusahaan tambang, dan perilaku investor ritel pasca kerugian. Sejarah menunjukkan fase konsolidasi atau koreksi sering terjadi setelah reli besar sebelum harga kembali bergerak naik.
Dikutip dari liputan6.com








