Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (9/1/2026), melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.798. Pelemahan ini dipicu pelebaran defisit fiskal APBN 2025, yang tercatat mencapai 2,92% dari PDB, di atas perkiraan resmi 2,78% dan mendekati ambang batas maksimal 3% sesuai undang-undang. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi defisit sementara sebesar Rp695,1 triliun per 31 Desember 2025.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa faktor eksternal relatif stabil. Data menunjukkan pemutusan hubungan kerja di AS turun 8,3% year on year pada Desember 2025, sementara klaim pengangguran awal sedikit naik menjadi 208 ribu, masih di bawah ekspektasi pasar. Neraca perdagangan AS Oktober 2025 mencatat defisit terkecil sejak 2009, menyempit menjadi 29,4 miliar dolar AS di tengah impor yang lemah.
Dikutip dari antaranews.com








