Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat di Jakarta bergerak menguat 13 poin atau 0,08 persen, tercatat Rp16.710 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.723 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah menguat dipengaruhi data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan. Consumer Price Index (CPI) tahunan AS tercatat 2,7 persen pada November 2025, lebih rendah dari proyeksi pasar 3,1 persen, dan turun dari 3 persen pada September 2025. Inflasi bulanan tercatat 0,2 persen, turun dari 0,3 persen pada September.
“Pelemahan inflasi AS meningkatkan harapan pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada Januari 2026,” ujar Rully. Meskipun The Fed masih membutuhkan data inflasi Desember, pasar sudah memprediksi tiga kali penurunan suku bunga tahun depan, termasuk awal tahun.
Di sisi domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga tetap di 4,75 persen memengaruhi ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Menurut Rully, upaya menahan stabilitas rupiah menjadi pertimbangan utama BI, meskipun beberapa pihak berharap suku bunga dapat lebih rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.680–Rp16.730 per dolar AS hari ini, dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk perkembangan inflasi AS dan kebijakan suku bunga BI.
Dikutip dari antaranews.com








