Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Gempa tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia, empat orang mengalami luka-luka, serta ribuan warga melakukan pengungsian mandiri sebagai langkah kewaspadaan.
Kepala BNPB Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno langsung menuju lokasi terdampak untuk memastikan penanganan darurat berjalan. BNPB juga mengerahkan tim untuk melakukan kaji cepat, pendataan korban, serta menyalurkan bantuan logistik dan peralatan.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo mengungsi setelah gempa dan adanya peringatan dini tsunami. Selain itu, sejumlah wilayah seperti Kabupaten Sikka, Manggarai Barat, Kota Bima, Kabupaten Bima, hingga beberapa daerah di Sulawesi Selatan turut merasakan dampak guncangan.
Dampak kerusakan sementara meliputi rumah warga, fasilitas umum, gudang Bulog, serta sejumlah kantor pemerintahan. Data tersebut masih terus diperbarui oleh BPBD bersama pihak terkait di lapangan.
BMKG menyatakan peringatan dini tsunami telah berakhir setelah tidak ditemukan adanya kenaikan muka air laut yang membahayakan. Meski demikian, BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.
Hingga kini, proses verifikasi dampak gempa masih berlangsung, sementara pemerintah terus melakukan penanganan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak di wilayah NTT.





