Sebanyak 47 orangutan di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama lebih dari sebulan. Dari sekitar 200 orangutan yang berada di pusat rehabilitasi tersebut, sejumlah satwa mengalami gejala berupa batuk berulang dan hidung berair.
CEO BOS Foundation, Jamartin Sihite, mengatakan asap masuk ke kawasan rehabilitasi meskipun tidak terdapat titik api di sekitar lokasi. Berdasarkan pemantauan pengelola, kadar partikel halus PM2.5 di kandang orangutan bahkan pernah mencapai angka 2.000.
Kondisi tersebut mendorong petugas meningkatkan pemantauan kesehatan dan memberikan perawatan khusus kepada orangutan yang terdampak. Penanganan dilakukan melalui pemberian jus bawang bombai dan obat-obatan untuk membantu menjaga kondisi tubuh satwa.
Selain itu, petugas menggunakan nebulizer untuk membantu menangani gangguan pernapasan yang lebih serius. Karena orangutan tidak dapat menggunakan masker seperti manusia, uap obat diarahkan ke bagian depan hidung agar dapat dihirup secara langsung.
Paparan asap berkepanjangan menjadi tantangan bagi upaya rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng. Pengelola terus melakukan pemantauan dan perawatan rutin untuk menjaga kesehatan satwa selama kualitas udara di kawasan tersebut masih terganggu.






