Harga minyak dunia melemah pada hari Selasa (10/12/2025, waktu Jakarta), dengan Brent turun ke USD 61,94 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup di USD 58,25 per barel. Penurunan ini mengikuti kerugian sebelumnya sebesar 2% pada sesi Senin, dipicu oleh pemulihan produksi minyak di Irak dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve.
Pasar global kini menyoroti negosiasi perdamaian Rusia-Ukraina yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak Rusia. Jika kesepakatan tercapai, ekspor minyak Rusia dapat meningkat, menekan harga lebih lanjut. Sebaliknya, kegagalan negosiasi dapat mendorong harga naik karena risiko gangguan pasokan.
Selain itu, keputusan The Fed mengenai suku bunga AS juga menjadi faktor penting. Proyeksi pasar menunjukkan kemungkinan penurunan 25 basis poin, yang biasanya mendorong permintaan minyak karena menurunkan biaya pinjaman. Namun, analis menekankan bahwa kelebihan pasokan pada 2026 tetap menjadi faktor utama yang menekan harga minyak jangka panjang.
Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyatakan bahwa “pasokan melimpah dan ekspektasi permintaan hati-hati tetap menjadi tema utama pasar.” Sementara Vivek Dhar dari Commonwealth Bank menambahkan bahwa risiko gencatan senjata dan perbaikan infrastruktur Rusia akan memengaruhi pergerakan harga hingga USD 60 per barel hingga 2026.
Dikutip dari liputan6.com








