Pengamat: Pilkada Lewat DPRD Tak Menjamin Hemat Biaya

Pengamat kebijakan dan politik dari Universitas Brawijaya, Andhyka Muttaqin, menegaskan bahwa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD tidak otomatis menekan biaya penyelenggaraan. Sistem ini justru berpotensi memindahkan proses pemilihan dari ruang publik ke ruang transaksi elit yang sulit diawasi, meningkatkan risiko praktik korupsi, dan membatasi hak pilih masyarakat.

Andhyka menekankan, penghematan biaya tidak boleh dijadikan alasan untuk mengganti sistem pilkada langsung menjadi tak langsung. Legitimasi kekuasaan, menurutnya, lahir dari kehendak rakyat dan partisipasi publik.

Meski pilkada langsung membutuhkan biaya, waktu, dan energi besar, Andhyka menyoroti beberapa langkah untuk menekan ongkos penyelenggaraan:

  • Transparansi dana kampanye.
  • Pembatasan biaya masuk akal.
  • Penguatan pendanaan partai politik agar kandidat tidak bergantung modal pribadi atau praktik mahar.
  • Penyederhanaan desain pilkada, sinkronisasi jadwal, dan digitalisasi administrasi.

Dengan strategi ini, pilkada langsung tetap lebih demokratis sekaligus lebih efisien secara biaya dan penyelenggaraan.

Dikutip dari antaranews.com

  • Related Posts

    Tak Ada Konflik, Ade Armando Pilih Keluar dari PSI

    Ade Armando resmi mengundurkan diri dari keanggotaan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui konferensi pers di Kantor DPP PSI, Jakarta, Selasa (5/5). Ia menegaskan keputusan tersebut diambil bukan karena konflik internal,…

    PKB: Ambang Batas Parlemen Harus Lindungi Suara Rakyat

    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan belum menetapkan angka ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT) untuk Pemilu Legislatif 2029, namun menekankan pentingnya perhitungan yang rasional agar tidak menghilangkan suara sah pemilih. Sekretaris…