Pelari pemula disarankan tidak hanya fokus pada aktivitas berlari, tetapi juga melengkapi latihan dengan penguatan otot agar kebugaran tubuh tetap seimbang. Sport Science Coach Matias Ibo menekankan pentingnya latihan kekuatan untuk meningkatkan daya tahan dan efisiensi tubuh saat berlari.
Menurutnya, latihan kekuatan berfungsi memperkuat serat otot dan meningkatkan jumlah mitokondria sebagai sumber energi. Kombinasi latihan ini dengan lari berintensitas rendah dinilai mampu membantu pelari berlari lebih jauh dan cepat secara bertahap.
Selain itu, pemilihan sepatu juga menjadi faktor penting untuk mencegah cedera seperti shin splints. Banyak pelari pemula dinilai terlalu cepat menggunakan sepatu berteknologi tinggi tanpa menyesuaikan dengan kebutuhan latihan. Untuk itu, disarankan memiliki setidaknya dua jenis sepatu, yakni untuk latihan ringan dan intensitas tinggi.
Sementara itu, Jakarta Running Coach Aditya Madya Pamungkas menyarankan pendekatan latihan berbasis durasi waktu dibanding jarak tempuh. Metode ini dinilai lebih efektif menjaga konsistensi dan mengurangi tekanan saat berlatih.
Dengan fokus pada durasi, seperti lari santai selama 60 menit, pelari dapat meningkatkan kapasitas jantung secara bertahap tanpa risiko cedera berlebih. Jika dilakukan rutin, peningkatan performa umumnya mulai terlihat dalam waktu sekitar tiga bulan.
Pendekatan latihan yang seimbang dan terencana ini diharapkan membantu pelari pemula meningkatkan performa sekaligus menjaga kondisi tubuh tetap optimal.
Dikutip dari RRI.co.id







