Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan yang dilancarkan oleh Iran ke Uni Emirat Arab memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Berdasarkan laporan pasar, harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik hampir 6 persen dan ditutup di level USD 114,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat lebih dari 4 persen ke posisi USD 106,42 per barel.
Eskalasi konflik terjadi setelah sistem pertahanan udara UEA mencegat sejumlah rudal balistik, rudal jelajah, serta drone yang diluncurkan dari Iran. Serangan tersebut juga dilaporkan memicu kebakaran di fasilitas minyak di wilayah Fujairah, yang semakin menambah kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi.
Ketegangan ini turut berdampak pada jalur vital pengiriman minyak dunia di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu titik krusial distribusi energi global, sehingga setiap gangguan berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.
Di tengah situasi tersebut, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memandu kapal-kapal sipil yang melintasi kawasan tersebut guna menjaga kelancaran pelayaran. Namun, ketidakpastian terkait eskalasi konflik masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Lonjakan harga minyak ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap faktor geopolitik. Jika ketegangan berlanjut, bukan tidak mungkin harga energi global akan terus mengalami tekanan naik dan berdampak luas terhadap perekonomian dunia.
Dikutip dari liputan6.com








