Sebanyak 15.425 warga Kecamatan Parmonangan, Tapanuli Utara, terancam mengalami krisis pangan dalam 3–6 bulan mendatang. Ancaman ini muncul setelah banjir bandang dan longsor pada 24 November 2025 merusak ratusan hektare lahan persawahan dan tanaman perkebunan warga. Camat Parmonangan, Rianto Lumbantobing, menjelaskan bahwa sebagian besar sawah warga mengalami puso sehingga produksi beras dipastikan menurun drastis.
“Kami bisa kelaparan tiga sampai enam bulan ke depan karena gagal panen,” ujar Rianto. Ia menegaskan bahwa pihak kecamatan telah melaporkan kondisi ini kepada Bupati Tapanuli Utara dan meminta dukungan bantuan beras untuk mengantisipasi kekosongan bahan pangan pokok.
Kecamatan Parmonangan dikenal sebagai penghasil beras, kemenyan, karet, sawit, dan durian. Namun, kerusakan parah pada lahan persawahan menjadi ancaman terbesar bagi ketahanan pangan masyarakat. “Kalau rusak semua lahan persawahan, kami khawatir warga bisa kelaparan,” ujarnya.
Saat ini, bantuan donasi masih masuk dengan total 14 ton beras yang cukup untuk kebutuhan dua minggu. Namun, Rianto menyebutkan bahwa bulan ketiga hingga keempat adalah masa paling rawan karena bantuan diperkirakan berhenti. Pemerintah kecamatan berencana meminta dukungan Bulog dan Dinas Pertanian untuk suplai beras jangka panjang.
Sementara itu, Kepala Desa Huta Julu, Dogang Manalu, melaporkan bahwa di desanya terdapat 102 KK terdampak kerusakan sawah, 99 KK terdampak kerusakan hutan, dan 39 KK terdampak sistem pengairan persawahan. Pemerintah berharap percepatan perbaikan lahan dilakukan agar penanaman dapat kembali berjalan dan krisis pangan dapat dihindari.
Sumber RRI.co.id






