Nilai tukar rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp18.070 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.091 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi melandainya inflasi Amerika Serikat serta turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut turut meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Inflasi tahunan AS tercatat melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 dari 4,2 persen pada Mei. Sementara itu, inflasi inti juga turun menjadi 2,6 persen secara tahunan. Penurunan inflasi didorong oleh melemahnya harga energi, terutama setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang menekan harga minyak.
Di dalam negeri, pelaku pasar masih menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen sehingga menjadi sentimen yang turut diperhatikan investor dalam pergerakan rupiah selanjutnya.







