Rupiah Berpotensi Menguat Setelah Kontraksi Data Manufaktur AS

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.746 per dolar AS pada perdagangan Selasa (6/1/2026). Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah berpotensi menguat terbatas menyusul kontraksi data manufaktur Institute for Supply Management (ISM) AS yang mencapai 47,9 persen di Desember 2025, lebih rendah dari perkiraan 48,3 persen.

Namun, prospek penguatan rupiah masih terbebani oleh data perdagangan Indonesia yang mengecewakan. Neraca perdagangan November 2025 mencatat surplus 2,66 miliar dolar AS, di bawah ekspektasi 3,1 miliar dolar AS. Pertumbuhan ekspor 6,6 persen YoY dan impor 0,46 persen YoY juga lebih rendah dari perkiraan.

Selain itu, rupiah masih tertekan oleh langkah ekspansif pemerintah, pelonggaran moneter Bank Indonesia, permintaan domestik yang lemah, dan kekhawatiran defisit anggaran jangka menengah hingga panjang. Menurut Lukman, kondisi ini membuat penguatan rupiah bersifat terbatas meski ada katalis dari data manufaktur AS.

Dikutip dari antaranews.com

  • Related Posts

    BTN Siapkan Rp23,18 Triliun untuk Kebutuhan Uang Tunai Jelang Lebaran 2026

    PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyiapkan uang tunai sebesar Rp23,18 triliun untuk memastikan kecukupan dana bagi masyarakat dan nasabah selama periode Hari Raya Idul Fitri 2026. Penyediaan dana…

    IHSG Senin Pagi Melemah 21,76 Poin

    Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pagi (16/3/2026) dibuka melemah 21,76 poin atau 0,30 persen ke posisi 7.115,45. Sementara itu, kelompok 45 saham…