Danantara Indonesia menargetkan pengurangan jumlah perusahaan BUMN dari 1.074 entitas menjadi kurang dari 200 perusahaan pada 2030. Langkah ini dilakukan melalui konsolidasi, merger, likuidasi, dan restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi serta memperkuat daya saing perusahaan negara.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa 52 persen dari 1.074 perusahaan BUMN mengalami kerugian hingga Rp23 triliun per tahun. Struktur perusahaan yang terlalu besar juga disebut menyebabkan inefisiensi sekitar US$2 miliar atau setara Rp31 triliun setiap tahun.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Danantara merencanakan konsolidasi sekitar 200 perusahaan, likuidasi 213 perusahaan, penyehatan keuangan 15 perusahaan, serta restrukturisasi 280 perusahaan noninti. Hingga akhir 2026, sebanyak 750 perusahaan ditargetkan selesai ditutup, digabung, atau dikonsolidasikan.
Sejumlah hasil transformasi mulai terlihat. Semen Indonesia mencatat kenaikan laba bersih 427 persen, sementara Telkom Indonesia meningkat 233 persen. Penggabungan tiga anak usaha hilir Pertamina juga disebut menghemat biaya hingga US$1 miliar dalam enam bulan.
Ke depan, Danantara akan melanjutkan pembenahan sumber daya manusia, budaya kerja, dan inovasi teknologi. Pada 2029–2030, BUMN dengan kinerja kuat ditargetkan mulai melantai di bursa saham.
Pada 2026, Danantara menargetkan laba bersih BUMN mencapai Rp360 triliun dan setoran dividen sekitar Rp200 triliun kepada negara.








