Aceh – Pemerintah bersama TNI mempercepat perbaikan jembatan rusak akibat banjir di Aceh untuk memulihkan mobilitas masyarakat dan memastikan distribusi logistik kembali normal.
Menurut Letkol CZI Rudy Haryanto, Komandan Batalyon Zeni Tempur (Danyon Zipur) 16, perbaikan difokuskan pada wilayah yang sempat terisolasi. Jenis jembatan yang terdampak bervariasi, mulai dari jembatan permanen hingga jembatan gantung.
Berdasarkan data posko penanganan bencana, sedikitnya terdapat 492 jembatan di Aceh yang rusak atau terputus akibat banjir. Pemerintah memprioritaskan jembatan nasional dan jalan alternatif strategis, termasuk Bener Meriah dan Takengon.
Perbaikan jembatan darurat menghadapi tantangan besar, seperti tertutupnya jembatan oleh material banjir berupa kayu dan puing, bahkan ada yang hanyut sepenuhnya. Di beberapa lokasi, jalan menuju jembatan juga tergerus akibat luapan sungai.
Contoh: Teupin Mane, Juli, Kabupaten Bireuen, sebelumnya sungai selebar 120 meter membengkak menjadi 180 meter. Prajurit TNI bekerja siang-malam dengan sistem shift 24 jam, dibantu masyarakat dan alat berat dari pemerintah daerah serta Kementerian PUPR.
Salah satu lokasi tersulit adalah Jembatan Teupin Reudeup, Awe Geutah, jalur strategis Bireuen–Lhokseumawe. Keterbatasan ruang kerja dan material menuntut improvisasi agar jembatan tetap aman dilalui.
Keberhasilan pembangunan jembatan darurat ini merupakan hasil kerja sama lintas instansi, termasuk Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan Kementerian PUPR dalam penyediaan material dan logistik.
Rudy menegaskan, perintah pemerintah jelas: membangun jembatan secepat mungkin agar masyarakat tidak harus menyeberang sungai menggunakan sampan atau tali.
Dikutip dari RRI.co.id






