Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 melonjak 193 persen menjadi Rp40,1 triliun dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun. Capaian tersebut menjadikan bauksit sebagai komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar, menggeser dominasi nikel.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam maupun luar negeri. Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau sekitar 29,8 persen dari total investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.
BKPM juga mencatat realisasi investasi selama semester I 2026 menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Salah satu proyek strategis yang mendukung hilirisasi bauksit adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat.
Sejumlah anggota Komisi XII DPR mengapresiasi lonjakan investasi tersebut dan berharap pembangunan smelter terus diikuti pengembangan industri hilir agar mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi daerah penghasil sumber daya alam.






