Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut menyimpan bahaya yang tidak selalu terlihat di permukaan. Meski api tampak padam, bara dapat terus membakar material organik di bawah tanah dan memicu fenomena ground fire atau kebakaran bawah permukaan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menjelaskan bahwa pembakaran lapisan gambut dapat membentuk rongga di dalam tanah. Ketika material organik habis terbakar, permukaan tanah kehilangan penopang dan dapat ambles, menyisakan lubang yang mengeluarkan asap serta pijar api.
Kebakaran bawah tanah juga sulit dideteksi karena bara dapat bertahan tanpa menunjukkan tanda kebakaran yang jelas di permukaan. Kondisi ini membuat pemadaman tidak cukup dilakukan dengan membasahi bagian atas lahan.
Untuk mengatasinya, petugas melakukan pembasahan menyeluruh hingga ke lapisan gambut yang terbakar melalui teknik penyuntikan air menggunakan pipa bertekanan tinggi. BNPB juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca bersama BMKG dan TNI apabila kondisi memungkinkan, guna membantu memicu hujan di wilayah terdampak yang sulit dijangkau petugas darat.
Upaya pencegahan turut dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan penutupan sekat kanal untuk menjaga kelembapan gambut. Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko kebakaran berulang.
BNPB mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan memasuki kawasan bekas karhutla. Permukaan tanah yang terlihat padat dapat menyembunyikan rongga dan bara panas, sementara struktur tanah yang rapuh berisiko ambles dan membahayakan orang yang melintas.






