Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa dan generasi Z mendalami pemikiran geopolitik Soekarno untuk memperkuat wawasan kebangsaan serta memahami posisi Indonesia dalam percaturan global.
Ajakan tersebut disampaikan Hasto dalam Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z bertajuk “Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia” di Aula Soekarno, Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11).
Hasto menjelaskan, geopolitik berkaitan dengan pemahaman konstelasi geografis dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Menurutnya, pemikiran Soekarno mengajarkan pentingnya memahami aspek historis, geografis, geostrategis, dan geoekonomi dalam menentukan arah bangsa.
Ia menegaskan bahwa generasi muda perlu memiliki wawasan yang menyeluruh, dengan menghubungkan kondisi masyarakat, kepentingan nasional, serta perkembangan politik internasional.
Hasto juga menyoroti pandangan Soekarno yang menempatkan wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke sebagai satu kesatuan cita-cita nasional. Visi tersebut mencerminkan ambisi Indonesia menjadi kekuatan maritim di Samudra Hindia sekaligus memandang masa depan kawasan Pasifik.
Menurut Hasto, sejarah diplomasi Indonesia pada masa Soekarno juga penting dipelajari, termasuk melalui Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok (GNB), Conference of the New Emerging Forces (Conefo), dan Ganefo.
Berbagai pengalaman tersebut dinilai menjadi pelajaran bagi generasi muda untuk memahami hubungan antara kepentingan nasional, kekuatan diplomasi, dan dinamika geopolitik dunia.
Hasto berharap pelatihan yang melibatkan akademisi dan tokoh sejarah, seperti Andi Widjajanto, Margaretha Hanita, dan Bonnie Triyana, dapat meningkatkan literasi geopolitik generasi Z.
“Pelajari pemikiran geopolitik Bung Karno, maka Anda akan punya arah masa depan,” kata Hasto.







