Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja lokal yang tersebar di 26.723 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program ini juga melibatkan masyarakat daerah sebagai pemasok bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan operasional dapur.
Juru Bicara Badan Gizi Nasional (BGN) Tysa Novenny mengatakan, dapur MBG memprioritaskan perekrutan warga sekitar serta penggunaan bahan pangan dari petani, peternak, dan pelaku UMKM setempat.
Sejak diluncurkan pada Januari 2025, program tersebut telah menjangkau lebih dari 58 juta penerima manfaat, termasuk anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. BGN juga mencatat sebanyak 80.315 pemasok lokal terlibat dalam rantai pasok MBG, dengan 82,83 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Keterlibatan pemasok lokal dinilai turut menggerakkan perekonomian daerah melalui peningkatan aktivitas usaha pedagang, kelompok tani, dan peternak. Pada 2026, realisasi anggaran program MBG tercatat mencapai Rp165 triliun, dengan pengembalian dana sebesar Rp44 triliun ke kas negara melalui efisiensi dan tata kelola anggaran.
BGN juga mengingatkan sekolah dan orang tua untuk segera membawa anak ke puskesmas apabila mengalami gejala medis setelah mengonsumsi makanan MBG serta melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah agar dapat ditangani dengan cepat.






