Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan resilien di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi perbankan untuk memperkuat pembiayaan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro mengatakan ketahanan sistem keuangan perlu didukung respons terhadap perubahan global, sinergi antarlembaga, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan mengantisipasi berbagai risiko.
Untuk mendorong penyaluran pembiayaan, BI memperkuat kebijakan makroprudensial yang longgar, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI).
Dengan kondisi tersebut, BI optimistis kredit dan pembiayaan perbankan pada 2026 dapat tumbuh dalam kisaran 8-12 persen. Penyaluran kredit diarahkan terutama ke sektor produktif dan prioritas dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Ketahanan perbankan juga tercermin dari kondisi semester I 2026. Rasio kecukupan modal atau CAR tercatat 23,70 persen pada Juni 2026, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 2,09 persen secara bruto dan 0,82 persen secara neto.
BI menilai kondisi permodalan dan risiko kredit tersebut masih memadai untuk memberikan ruang bagi perbankan meningkatkan intermediasi sekaligus mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi.








