Ekspor tenun ikat Indonesia mencapai US$34 ribu pada semester I 2026, meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13,6 ribu. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan kain ulos untuk memperluas pasar internasional sekaligus meningkatkan pendapatan perajin.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai ulos perlu dikembangkan menjadi beragam produk, seperti pakaian, aksesori, dekorasi interior, dan cenderamata. Diversifikasi tersebut diharapkan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas dan meningkatkan nilai ekonomi industri kecil dan menengah (IKM).
Sepanjang 2025, nilai ekspor seluruh produk tenun ikat Indonesia tercatat mencapai US$88 ribu. Angka tersebut mencakup berbagai jenis tenun ikat dan bukan hanya ulos. Berdasarkan data BPS 2020, Sumatera Utara memiliki 43 sentra tenun ulos yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun.
Kemenperin juga menyoroti tantangan industri tenun tradisional, mulai dari regenerasi perajin, keberlanjutan keterampilan menenun, inovasi desain, hingga peningkatan kualitas produk. Pemerintah berupaya memperkuat kemampuan sumber daya manusia dan kewirausahaan melalui pelatihan serta pembinaan IKM.
Selain itu, perlindungan produk khas daerah didorong melalui sertifikasi Indikasi Geografis. Salah satu produk yang telah memperoleh sertifikat tersebut adalah Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara.
Melalui inovasi produk, penguatan keterampilan perajin, dan perlindungan kekhasan daerah, pemerintah berharap ulos semakin berdaya saing dan mampu memperluas pasar global, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.






