Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (19/10/2026). Rupiah berada di level Rp18.025 per dolar AS, naik 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Yuan China menguat 0,04 persen, ringgit Malaysia naik 0,02 persen, yen Jepang terapresiasi 0,01 persen, won Korea Selatan menguat 0,13 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.
Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,18 persen dan dolar Singapura turun 0,03 persen. Di antara mata uang negara maju, poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, dolar Australia naik 0,31 persen, dan dolar Kanada terapresiasi 0,15 persen. Sementara itu, euro melemah 0,07 persen dan franc Swiss turun 0,01 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan dari faktor domestik maupun eksternal. Meski demikian, sanksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta proses dengar pendapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai berpotensi membantu memulihkan kepercayaan pasar.
Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang mendorong kenaikan harga minyak dunia berpotensi kembali menekan rupiah.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang perdagangan Senin. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan sentimen domestik dan kondisi ekonomi global.








