Jakarta – Stok Pertalite secara nasional turun dari sebelumnya di atas 20 hari menjadi sekitar 16–18 hari. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyebut penurunan tersebut dipengaruhi peralihan konsumen dari bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
Menurut Bahlil, perbedaan harga antara Pertamax dan Pertalite mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM beroktan 90 tersebut. Kondisi ini sejalan dengan peningkatan konsumsi Pertalite setelah harga Pertamax naik pada Juni 2026.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat rata-rata penyaluran Pertalite meningkat menjadi 85.589 kiloliter per hari pada Juli 2026, naik 12,92 persen dibandingkan rata-rata sebelum kenaikan harga Pertamax. Pada Agustus, penyalurannya turun menjadi 84.368 kiloliter per hari, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Bahlil memastikan stok Pertalite saat ini masih berada di atas standar minimal. Proses pencampuran atau blending untuk produksi Pertalite juga sedang berlangsung di kilang. Pemerintah memperkirakan waktu sekitar satu pekan untuk mengembalikan stok ke kisaran 20 hari.
Sementara itu, Bahlil menyatakan pasokan Biosolar serta BBM nonsubsidi jenis Pertamax, Pertamax Green, dan Pertamax Turbo tidak mengalami masalah. Pemerintah terus memantau ketersediaan BBM untuk menjaga kelancaran pasokan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.






