Jakarta – Pemerintah menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif liquefied petroleum gas (LPG) untuk mengurangi ketergantungan pada impor gas. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya beban subsidi LPG yang mendekati Rp100 triliun akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengatakan subsidi LPG sebelumnya mencapai Rp87 triliun ketika harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Ketika harga naik ke kisaran 90–100 dolar AS per barel, beban subsidi meningkat hingga mendekati Rp100 triliun.
Menurut Bahlil, ketidakpastian geopolitik dan konflik internasional turut mendorong kenaikan harga energi. Pemerintah pun menyiapkan CNG yang menggunakan gas alam terkompresi sebagai pilihan untuk mengurangi impor LPG.
Bahlil menyebut harga CNG berpotensi lebih murah sekitar 30–40 persen dibandingkan LPG. Namun, penggunaan CNG dalam tabung berukuran 3 kilogram masih dalam tahap pengujian, sedangkan tabung berukuran 12 kilogram telah digunakan.
Di sisi lain, Kementerian ESDM mencatat rata-rata harga ICP pada September 2026 mencapai 112,81 dolar AS per barel, naik dari 89,43 dolar AS per barel pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan pasar minyak global akibat ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan pasokan.
Pemerintah berharap pengembangan CNG dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional.






