GKSR Dorong Sistem Pemilu Lebih Inklusif dan Representatif

Gerakan Kedaulatan Suara Rakyat (GKSR) mendorong sistem Pemilu yang lebih inklusif dan representatif dalam Seminar Nasional di Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026). Fokus utama seminar adalah Parliamentary Threshold (PT) dan dampaknya terhadap suara rakyat, dihadiri partai nonparlemen serta tokoh hukum tata negara.

Ketua Umum GKSR, Oesman Sapta, menekankan demokrasi harus menghargai setiap suara sah. Ia menilai ambang batas parlemen berpotensi mengerdilkan kedaulatan rakyat. “Delapan partai nonparlemen sah sebagai representasi warga negara. Demokrasi runtuh jika terlalu banyak suara diabaikan,” tegasnya.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menilai PT tidak mutlak diperlukan untuk stabilitas politik, sementara mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat, mengingatkan asas proporsionalitas dan kedaulatan rakyat harus dijaga saat menentukan ambang batas parlemen.

Pembina Perludem, Titi Anggraini, menyoroti PT 4 persen yang menghilangkan jutaan suara pada Pemilu 2024 dan mendorong ambang batas fraksi yang tetap efektif namun tidak mengorbankan representasi.

GKSR menekankan agar setiap suara rakyat dihitung dan dihargai, serta mendorong pembentuk undang-undang merumuskan sistem Pemilu yang stabil sekaligus inklusif.

Dikutip dari RRI.co.id

  • Related Posts

    PKB Soroti Implementasi UU TPKS dalam Penanganan Kasus di Pesantren

    Partai Kebangkitan Bangsa menilai kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren memiliki kompleksitas tinggi karena dipengaruhi relasi kuasa antara pelaku dan korban. Politisi PKB sekaligus Ketua Panitia Temu Nasional Pondok…

    DPR Minta Pengiriman Prajurit TNI ke Lebanon Didukung Intelijen Memadai

    Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui Anggota Komisi I Amelia Anggraini meminta pengiriman prajurit TNI ke Lebanon dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon didukung intelijen yang memadai untuk…