Nezar Patria menekankan pentingnya tata kelola kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang berbasis pada nilai dan etika serta didukung regulasi yang mengikat.
Dalam audiensi bersama Globethics di Jakarta, Nezar mengatakan etika dalam pengembangan teknologi perlu diterjemahkan ke dalam aturan hukum agar memiliki kekuatan implementasi yang jelas. Menurutnya, regulasi penting karena memiliki mekanisme pengawasan dan sanksi yang mengikat.
Nezar juga menyoroti tantangan pengembangan AI yang tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga persoalan etika dan perbedaan nilai antarnegara. Ia menilai sebagian besar model generative AI dan large language model yang dikembangkan di negara Barat berpotensi memunculkan konflik nilai jika diterapkan tanpa penyesuaian dengan karakter masyarakat Indonesia.
Menurut Nezar, kesadaran perusahaan teknologi terhadap aspek etika kini mulai meningkat, termasuk dengan melibatkan ahli humaniora dan filsafat dalam proses pengembangan teknologi. Hal tersebut dinilai menjadi langkah penting agar risiko etis dapat menjadi bagian dari manajemen risiko perusahaan teknologi.
Selain itu, pemerintah mendukung rencana penyelenggaraan Global Ethics Forum di Indonesia pada Oktober 2026 mendatang. Forum tersebut diharapkan dapat mendorong pembahasan global terkait etika dalam pengembangan teknologi kecerdasan artifisial.
Dikutip dari RRI.co.id






